Rabu, 23 Februari 2011

Ikut (bisnis) MLM Bisa Jadi Kaya Lho!



Mungkin Anda pernah mengalami, seseorang teman atau kerabat mendatangi Anda. Awalnya  mungkin dia menanyakan soal kesehatan atau kondisi tubuh Anda. Lalu dia mulai menawarkan  atau produk yang bisa membuat tubuh anda bugar kembali. Dia pun akan mengatakan, kalau Anda perlu produk itu dengan harga mura, silakan bergabung denperusahaan yang memasarkan produk tersebut sebagai anggota atau distributor.

Bisa juga berlanjut ke pertanyaan  soal pekerjaan, seperti: “Sudah berapa lama Anda bekerja di posisi sekarang? Berapa gaji  yang Anda terima dengan bekerja rutin seperti itu?” dst. Kemudian dia akan membandingkan pendapatan Anda sekarang dengan pendapatan bila Anda berbisnis seperti yang dilakukannya, bisnis multi level marketing (MLM). Tentu saja dia akan bilang, berbisnis MLM itu lebih menguntungkan ketimbang Anda bekerja mati-matian seperti sekarang.

Kalau Anda mengalami peristiwa di atas, dipastikan Anda sedang diprospek oleh seorang pelaku bisnis MLM. Prospek adalah bahasa yang biasa dipakai para pelaku MLM untuk menyebut usaha mencari atau mendekati calon mitra atau anggota baru. Kalau Anda tertarik dan menjadi anggota, posisi anda akan ditempatkan di bawah sponsor (kerabat atau teman) Anda tadi. Anda disebut down line-nya dia. Dia sendiri disebut sebagai up line.

Lantas tugas Anda apa? Tugas Anda selanjutnya adalah memasarkan roduk dari perusahaan MLM yang Anda ikuti kepada orang lain. Dari setiap produk yang berhasil dijual, Anda mendapat laba dari selisih harga jual yang ditetapkan dan berhak mendapatkan poin. Setiap poin mempunyai nilai tersendiri. Bila poin yang Anda kumpulkan memenuhi kualifikasi yang ditetapkan, Anda mendapat bonus. Tapi, poin dan bonus Anda bisa semakin besar kalau Anda menjadi sponsor dan mengajak orang lain menjadi anggota batu. Mereka yang bergabung akan menjadi down line Anda.

Anggota-anggota baru yang bisa Anda rekrut (misal si Barry, Cute, Delon, Ellen)  merupakan level I grup anda. Bila level ini menarik anggota baru lagi, maka mereka (si  Gerrald, Harry, Indy, Jeanne dst) akan menjadi level II dalam grup Anda. Bila ada anggota baru yang ditarik oleh level II, maka mereka akan menjadi anggota level III dalam grup Anda dan begitu seterusnya. Proses pensponsoran dari satu orang ke dua, tiga orang dan seterusnya ini, biasa disebut dengan duplikasi. Nah, kalau mitra-mitra di bawah grup Anda tadi aktif menjalankan bisnis MLM-nya, bukan tak mungkin Anda kena dampak positifnya. Jenjang (posisi) Anda akan naik dan bonus atau komisi yang didapat pun akan semakin besar. Bonusnya bisa berbentuk uang atau barang mewah lain, semisal kendaraan atau rumah. Anda juga berhak mendapat hadiah jalan-jalan ke luar  negeri.

Begitulah gambaran umum bisnis MLM. Bisnis ini sebenarnya bukan barang baru.  Usaha ini suda dijalani ribuan sampai jutaan orang di Ame Serikat  sejak  40-an silam.                                 Indonesia sendiri, bisnis networking (jaringan) iaru mulai tumbuh subur tahun 90-an. Saat ini lebih dari 100 perusahaan yang merkan produk dan jasa dengan system penjualan langsung. Sebagian ada yang tergabung dalam Asosiasi Penjualan Lansung Indonesia (APLI), sebagian jalan di luar asosiasi tersebut.

Produk yang dipasarkan kini sudah beraneka ragam. Kalau dulu beberapa perusahaan MLM  lebih banyak menjual produk food supplement (makanan kesehatan), sekarang sudah beragam , mulai dari pakaian sampai peralatan dapur pun ada. Bahkan belakangan, beberapa produk  awalnya dipasarkan dengan cara konvensional, sekarang sudah memakai  cara MLM. Sekedar menyebut contoh produk penghemat  listrik dan kartu voucher (pulsa isi ulang) handphone, kini sudah dipasarkan lewat MLM.

Bagaimana Memilih MLM Yang Baik?
MLM YANG BENAR ITU:

1.   Mitra usaha hanya boleh membeli keanggotaan dari perusahaan satu kali saja.
2.   Perusahaan tidak boleh memberikan keuntungan kepada mitra usaha hanya atas hasil rekrut anggota baru.
3.   Di perusahaan, harus ada barang atau jasa yang diperdagangkan dan dipergunakan oleh konsumen.
4.   Barang tidak dipergunakan sekedar sebagai kedok, yang akan terlihat bila barangnya dijual dengan harga yang tidak wajar.
5.   Keuntungan atau laba yang diperoleh anggota adalah  terutama berdasarkan penjualan barang atau jasa kepada konsumen, bukan dari rekruting anggota baru.
6.   Ada pelatihan tentang pengetahuan produk dan cara menjual kepada mitra usaha.
7.   Ada buy back guarantee (jaminan beli kembali setelah diperhitungkan semua biaya-biaya terkait) dari perusahaan atas produk atau inventory yang masih layak jual milik anggota bila anggota mengundurkan diri dari perusahaan. (sumber:APLI) 
Sumber: Tabloid DUIT! 02/I/Juni 2006/Agustaman

0 komentar:

Posting Komentar